• Card 1 of 30
News Pemilu

Moeldoko: Prabowo Ngarang

Damar Iradat    •    16 Januari 2019 18:41

Jenderal TNI Purn Moeldoko menjadi pembicara pada acara serial diskusi bertajuk Menuntaskan Pembangunan untuk Seluruh Indonesia di Ruang Merak, Jakarta Convention Center, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga. Jenderal TNI Purn Moeldoko menjadi pembicara pada acara serial diskusi bertajuk Menuntaskan Pembangunan untuk Seluruh Indonesia di Ruang Merak, Jakarta Convention Center, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga.

Jakarta: Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko membantah pernyataan calon presiden Prabowo Subianto ihwal Indonesia hanya mampu bertahan tiga hari saat berperang. Dia menegaskan Indonesia sebagai negara kuat mampu berperang lebih lama dari itu.

"Enggak lah, ngarang. Negara segede Indonesia begini masa perang tiga hari selesai," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 16 Januari 2019.

Kepala Kantor Staf Kepresidenan itu mengatakan Indonesia saat ini memiliki industri dalam negeri yang juga memproduksi kebutuhan amunisi. Meskipun, di sisi lain, ada kebutuhan-kebutuhan amunisi yang diimpor dari luar. 

Moeldoko juga memastikan pemerintah dan TNI juga pasti sudah menghitung sirkulasi amunisi. Alhasil, saat amunisi akan habis, pemerintah sudah mengimpor amunisi tersebut. "Enggak (benar pernyataan Prabowo), anggaran kan sudah ditata," ungkap dia.

Prabowo dalam pidato kebangsaan Senin, 14 Januari 2019, menyebut jika Indonesia tidak akan bertahan selama tiga hari dalam situasi perang. Menurut dia, angkatan bersenjata Indonesia hanya memiliki persediaan amunisi yang hanya cukup digunakan selama tiga hari. 

Ketua Umum Partai Gerindra itu berdalih jika pernyataan itu sempat dilontarkan Menteri Pertahanan Ryamizard pada 2015. Saat itu, Ryamizard lewat akun Twitter-nya @Ryamizard_R, menuliskan jika Indonesia hanya mampu bertahan tiga hari saat menghadapi situasi perang. 

Baca: Sosok Negarawan Prabowo Dipertanyakan usai Pidato

Sementara itu, siang tadi Ryamizard juga membantah pernyataan Prabowo. Bahkan, dia mengatakan jika Indonesia mampu bertahan 1.000 tahun dalam situasi berperang. Terkait cuitannya pada 2015 lalu, Ryamizard mengatakan, konteksnya berbeda.

Cuitannya kala itu berdasarkan diskusi 2005 atau 2006 terkait ketahanan energi. Menurut Ryamizard, saat itu Indonesia memang memiliki masalah energi, khususnya minyak.

"Kalau kita perang besar terus menerus, minyak habis. Yang waktu itu kita memang kelangkaan minyak," jelas Ryamizard.