• Card 1 of 30
News Pemilu

NasDem Minta Prabowo tak Ngawur Berorasi

Intan Yunelia    •    02 Desember 2018 06:17

Ketua DPP bidang Media Partai NasDem, Willy Aditya. Foto: Partainasdem.id Ketua DPP bidang Media Partai NasDem, Willy Aditya. Foto: Partainasdem.id

Jakarta: Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya meminta calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto tak asal memberikan pernyataan ke publik. Seperti pernyataannya yang menyebut korupsi di Indonesia layaknya kanker stadium 4 saat pidatonya di Singapura.

Pernyataan Prabowo itu kata Willy tak berdasar. Dari data Transparasi Internasional tahun 1999 yang berisikan pencegahan dan pemberantasan korupsi, hingga kini indeks persepsi korupsi Indonesia terus mengalami kemajuan.

Posisi Indonesia saat ini hanya berada di bawah Singapura, Malaysia dan Brunei. Berbanding terbalik di era orde baru terburuk di Asia Tenggara,

"Prabowo harus bisa membedakan sistem yang berjalan di negara otoriter seperti zaman orde baru dan era demokrasi sekarang," ujar Willy kepada Medcom.id, Jakarta, Sabtu 1 Desember 2018.

Ya harus diakui kekuasaan di era orde baru sangat tertutup dan dipegang oleh tangan penguasa. Wajar saja publikasi mengenai kasus-kasus korupsi di pemerintahan sulit diakses oleh publik.

"Di zaman oder baru jika ada orang yang berani kritik karena korupsi maka bisa-bisa orang tersebut akan dibungkam. Berbeda dengan sekarang yang semua harus transparan," papar Mantan Wakil Sekretaris Jenderal Partai NasDem ini.

Bahkan di zaman orde baru, aparat keamanan menjadi alat kontrol pemerintah. Mulainya reformasi semua ditata ulang dengan kewenangan dan independensi yang diatur oleh undang-undang. 

"Bahkan Indonesia melahirkan KPK (Komisi Pemberantas Kroupsi) sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi bersama Kejaksaan dan Polri," tutur Willy.

Justru Willy mempertanyakan komitmen Prabowo bersama partainya Gerindra dalam upaya pemberantasan korupsi. Partainyalah yang paling banyak mencalonkan narapidana kasus korupsi. 

"Jadi Prabowo sebaiknya berhentilah menggunakan cara kampanye ngawur, dan berikanlah gagasan untuk pembanding," pungkasnya.