• Card 1 of 30
News Pemilu

Perseteruan Gerindra-PKS di DKI Sandungan bagi Prabowo-Sandi

11 Desember 2018 00:00

Bakal Capres dan Wapres Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (kanan) memberikan keterangan pers di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta, Jumat (7/9/2018). Foto: Antara/Galih Pradipta Bakal Capres dan Wapres Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (kanan) memberikan keterangan pers di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta, Jumat (7/9/2018). Foto: Antara/Galih Pradipta

Jakarta: Kompromi politik antara Partai Gerindra dan PKS dalam penentuan calon wakil gubernur DKI Jakarta pengganti Sandiaga Uno masih belum menemui titik terang.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai munculnya calon alternatif dari luar Gerindra dan PKS dinilai bisa menjadi solusi. "Dengan catatan PKS Legowo," ujar Adi Prayitno, Senin, 10 Desember 2018.

Hingga saat ini "perseteruan" antara dua partai pengusung gubernur dan wakil DKI Jakarta masih menemui jalan buntu. PKS masih belum percaya diri mengajukan calonnya, lantaran Partai Gerindra mensyaratkan harus terlebih dahulu dilakukan uji kelayakan dan kepatutan.

Gerindra berdalih, fit and proper test sebagai standar prosedur dalam proses penyaringan seorang pemimpin. Bahkan hal itu diklaim termaktub dalam AD/ART partai. Sementara PKS terkesan keberatan dengan syarat itu karena menganggap kursi wakil gubernur DKI sudah menjadi haknya, sepeninggal Sandiaga Uno yang maju sebagai calon wakil Presiden Prabowo.

Keduanya sempat sepakat untuk kembali duduk bersama membahas persoalan ini pekan lalu. Namun hingga kini pertemuan belum juga terealisasi. Calon wagub DKI pun sampai hari ini masih menjadi wacana.

Adi menjelaskan, berlarut-larutnya dinamika politik antara Gerindra dan PKS dalam penentuan wagub DKI bisa jadi bumerang bagi pasangan capres Prabowo-Sandi. Mesin politik PKS, kata dia, bisa tidak berjalan maksimal lantaran energinya habis mengurusi persoalan kursi wagub DKI.

Secara lisan Gerindra telah menyerahkan kursi wagub DKI dan konon PKS telah mengajukan dua calon, yakni Sekretaris Umum DPW PKS DKI Agung Yulianto dan eks Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu. Namun hasil perundingan tetap nihil. Sebab itu, Adi sepakat bila munculnya calon dari luar PKS dan Gerindra bisa memberi harapan baru, kendati secara politik kursi wagub DKI adalah jatah PKS.

"Ini bisa menjadi titik temu, tapi bisa juga tidak," ujarnya.

Adi mengomentari kemunculan nama Erwin Aksa di tengah-tengah kebuntuan kompromi Gerindra dan PKS. Menjadi titik temu, jika PKS gayung bersambut dan ikut merekomendasikan Erwin Aksa menjadi calon pendamping Anies Baswedan di Balai Kota.

Kondisi sebaliknya terjadi mana kala PKS mencurigai Gerindra ikut "bermain" dalam kemunculan nama Erwin Aksa. "Ini karena Gerindra terkesan welcome (setuju Erwin jadi cawagub), PKS curiga Gerindra bermain di dua kaki. Ini bukan lagi titik temu," kata dia.