• Card 1 of 30
News Pemilu

Prabowo Diminta Ungkap Fakta Kasus Penculikan Aktivis 98

Arga sumantri    •    16 Januari 2019 09:15

Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. ANT/Galih Pradipta. Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. ANT/Galih Pradipta.

Jakarta: Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto diminta mengungkap fakta sebenarnya soal kasus penculikan dan penghilangan paksa aktivis 1998. Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate menyebut momentum debat perdana Pilpres 2019 bisa jadi kesempatan bagi Prabowo untuk menjelaskan masalah itu.

"Mestinya Pak Prabowo buka ke publik apa yang sebenarnya terjadi supaya orang mengetahui rekam jejaknya, orang memilih dengan informasi yang banyak bukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang banyak," kata Johnny di Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019. 

Johnny mengatakan masyarakat masih bertanya-bertanya terkait kasus penculikan dan penghilangan paksa aktivis 98 tersebut. Apalagi, kata dia, sejumlah anggota Tim Mawar (tim yang disebut menculik para aktivis 98) telah diproses secara hukum di Mahkamah Militer.

"Terkait jenderal Prabowo yang diselesaikan di luar Mahkamah Militer, yaitu melalui jalur politik dengan pertimbangan politik, dengan dibentuknya Dewan Kehormatan Perwira," jelasnya. 

Menurutnya, publik juga masih bertanya-tanya soal adanya perlakuan berbeda terhadap Prabowo. Selain itu, terminologi pemberhentian dari TNI oleh DKP juga dinilai halus, untuk tidak mengatakan dipecat dari TNI.

"Karena itu kita harus mengetahui rekam jejak pasangan calon. Nah, rekam jejak ini belum clear," ungkapnya.

Johnny menambahkan butuh kerendahan hati dan kejujuran Prabowo untuk mengatakan yang sebenarnya. Menurut dia, pengungkapan kasus ini tidak perlu menggunakan tim gabungan seperti untuk pengungkapan kasus penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Pasalnya, penyelesaian kasus HAM sudah akan lebih cepat jika aktor-aktor yang terlibat bisa jujur mengungkapkan fakta sebenarnya.

"Tidak perlu tim khusus, minimal dari Prabowo, terlibat atau tidak. Karena faktanya Tim Mawar sudah dihukum melalui Mahkamah Militer," pungkasnya.